myupdate: catatan kecil sebuah renungan hati
bismillah.
belakangan ini saya sering merenung. merenungi tentang status saya sebagai mahasiswa. bagaimana saya mengelola waktu di tahun terakhir ini, termasuk di dalamnya kuliah, penelitian, dan keaktifan saya di lembaga kemahasiswaan. beda dari biasanya, sore ini saya merasa sangat tenang. tapi ketenangan yang berisi kegelisahan, atau bahasa anak muda sekarang ‘kegalauan’. baik, mungkin sulit digambarkan, tapi mungkin lebih kurang rasanya sepertinya mulai kapalan kepala saya menerima masalah, sehingga tak ada waktu lagi untuk gelisah atau ‘galau’, jadi tenang saja.
sedikit-sedikit belakangan saya merenungi ‘orang-orang masjid yang masif berinvasi’ seperti saya. kemanapun. lembaga kemahasiswaan tertinggi, seperti BEM dan lainnya, lembaga keilmuan, bahkan lembaga dakwah sekalipun. belakangan saya berpikir keras, mengapa terkadang belakangan ini tidak semuanya tidak berjalan sebagaimana semestinya. di awal kita terjun ke dalam dunia aktifnya mahasiswa, dengan ‘background masjid’, dan memilih untuk menjadi yang terasing, ghuraba, malah ketika melihat kerja orang yang terasing ini tidak dirasakan, maka mulai mencari cara lain. walaupun itu berarti harus berkampanye, harus muncul ke depan publik, untuk ‘sedikit mengubah’ penampilan, cara dalam menyampaikan apa yang dipercayai. dan begitupun ini berarti akan mencontoh apa yang dilakukan Nabi Yusuf AS ketika beliau meminta jabatan kepada raja Mesir. analogi inilah yang digunakan untuk memasifkan gerakan. menyebar manfaat yang dirasa kepada banyak orang. tapi perlulah digarisbawahi, bahwa, saya tidak sedang berbicara kepemimpinan di ranah publik saja. karena terkadang orang-orang sibuk mencitrakan diri, tanpa ingat bahwa perlu ‘mengisi’ diri lebih penuh, agar citranya alami, tidak dibuat-buat, dan setulus Yusuf AS kepada Tuhannya.
permasalahannya adalah, ketika mulai menyampaikan apa yang kita yakini, yang kita rasa bermanfaat dan penuh berkah, ternyata tidak sama dengan apa yang ada di kepala mahasiswa lain yang ada di depan kita, sebagai objek yang mungkin kemudian menjadi subjek juga atas apa yang kita kerjakan. bahwa ternyata, teori Spiritual Qoutient, yang mengarah ke God Spot sendiri, hilang, digusur oleh kefanaan kebahagiaan kehidupan manusia (mahasiswa) di dunia (kampus).
penengah dari apa yang saya pikirkan ini adalah seorang yang membawa misi harus lah berisi, seorang yang mewarnai, haruslah punya warna yang tegas, seorang yang akan mengisi, haruslah sanggup menimba untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. selebihnya, orang-orang ini juga harus bisa seperti orang yang terbaik sepanjang masa, yang bergelar Al-Amin itu, Rasulullah SAW. yang mampu masif sampai umat-umat lain tidak bisa menolak apa yang beliau bawa, dan bahkan ketergantungan akan hal itu. mahasuci Allah pencipta segala makhluk. atau sederhananya, kembali kepada kemurnian misi itu sendiri.
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (47:7)
yah, setidaknya, ‘ketenangan’ saya berbuah tulisan, yang mungkin bermanfaat, sebagai bahan renungan, seperti apa yang saya renungkan. well, tidak ada manusia yang sempurna,
alhaqqumirrobbik, fala takunana minal mumtarin.
Allahu’alam.
(10-11-2011, di kamar kos, di tengah tugas kuliah yang menumpuk dan mencoba menuliskan pikiran melalui jalan pemahaman kritis, layaknya para realis).
