rio.guia.deus!

  • Random
  • Archive
  • RSS
  • Ask me anything
Pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM), Hasan Al Banna ternyata pernah menjadi anggota Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia di  Mesir. Atas desakan IM, Mesir menjadi negara pertama yang mengakui  kemerdekaan RI. Dengan demikian, lengkaplah syarat-syarat sebuah negara  berdaulat bagi RI.
Kota pelabuhan Iskandariyah pertengah Juli 1945. Jam kayu di sebuah  penginapan murah di kota pelabuhan Mesir telah menunjuk angka 22.00  waktu setempat. Di satu ruangan yang tak seberapa besar, empat-puluhan  kelasi kapal berkebangsaan Indonesia berkumpul. Sejumlah mahasiswa  Indonesia yang tengah studi di Mesir terlihat memimpin rapat.
Beda dengan pertemuan sebelumnya, malam itu atmosfir rapat terasa  agak emosionil! Para kelasi Indonesia yang bekerja di berbagai kapal  asing yang tengah merapat di Iskandariyah, Port Said, dan Suez itu  banyak yang yakin, jihad fii sabilillah yang tengah digelorakan banga  Indonesia melawan penjajah belanda dalam waktu dekat akan sampai pada  puncaknya. Muhammad Zein Hassan, salah seorang  mahasiswa Indonesia yang hadir, berpesan pada para kelasi agar mulai  menabung. “Di saat terjadinya jihad, mereka sebaiknya meninggalkan  kapal-kapal sekutu agar tidak menodai perjuangan.”
Sambutan para kelasi yang dalam kesehariannya jauh dari tuntunan  agama itu sungguh mengharukan. Mereka dengan sepenuh hati menyanggupi  hal tersebut. “Jika fatwa sudah turun, kami akan mematuhi,” ujar salah  seorang dari mereka. Tak terasa, jam telah berada di angka satu. Acara  ditutup dengan sumpah setia dengan perjuangan bangsanya yang nun jauh di  seberang lautan.
Seluruh peserta mengangkat tangan kanan dan dikepalkan. Dengan  menyebut nama Allah SWT, mereka bertekad akan membantu dengan sekuat  tenaga jihad fii sabilillah yang akan digelorakan bangsanya dalam waktu  dekat ini. Sumpah para kelasi tersebut tidak main-main. Terbukti di  kemudian hari, dua bulan setelah proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta,  dua orang kelasi Indonesia tiba di Kairo dengan berjalan kaki dari  Tunisia.
“Saat kami tanya mengapa berjalan kaki sejauh itu, mereka  menjawab bahwa mereka menerima fatwa yang dibawa teman-teman mereka dari  Indonesia. Fatwa itu menyatakan haram hukumnya bekerja dengan orang  kafir yang memerangi kaum Muslimin,” ujar Zein Hassan. Walau tidak punya  cukup uang, dua orang kelasi itu segera meninggalkan kapal sekutu  tempatnya bekerja dan berjalan kaki menuju Mesir, karena di Mesir-lah  berada banyak orang sebangsanya.
Di Mesir sendiri kala itu tengah berkembang sikap antipati terhadap  penjajahan Inggris. Sikap non kooperatif terhadap penjajah Inggris ini  dicetuskan oleh organisasi Al-Ikhwan Al-Muslimun yang mendapat sambutan  luar biasa dari rakyat Mesir. Sebagai gerakan dakwah yang menembus sekat  geografis, Al-Ikhwan Al-Muslimun telah memiliki “jaringan iman” dengan  berbagai gerakan Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Oleh sebab itu, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya,  Sekutu dengan sekuat tenaga memblock-out berita ini masuk ke Timur  Tengah. Dikhawatirkan jika kemerdekaan Indonesia sampai didengar umat  Islam di sana, ini bisa menjadi inspirasi bagi gerakan serupa di Timur  Tengah. Serapat-rapatnya sekutu menutup informasi ini, akhirnya pada  awal September 1945, sebulan setelah kemerdekaan Indonesia dibacakan,  berita ini sampai juga ke Mesir.
Mansur Abu Makarim, seorang informan Indonesia yang  bekerja di Kedutaan Belanda di Kairo, membaca berita kemerdekaan  Indonesia dalam suatu artikel di majalah Vrij Nederland. Bagai angin  berhembus, berita ini dengan cepat menyebar ke Dunia Islam. Koran dan  radio Mesir memuat berita kemerdekaan RI dengan gegap gempita.
Para penyiar dengan penuh semangat mengatakan bahwa inilah awal  kebangkitan Dunia Islam melawan penjajahan Barat. Di Mesir saat itu,  seorang Arab hanya dihargai sepuluh pound Mesir jika dibunuh atau  dilindas kendaraan militer Sekutu tanpa hak mengadu atau menggugat.  Sebab itu, proklamasi kemerdekaan sebuah negeri Muslim terbesar di dunia  ini disambut dengan luapan kebahagiaan.
Di sejumlah kota, Al-Ikhwan Al-Muslimun segera menggelar munasharoh  -solidasitas- besar-besaran mendukung penuh kemerdekaan Indonesia. Ini  dijadikannya momentum yang bagus untuk memerdekakan Mesir dari Inggris.  Bukan itu saja, sejumlah ulama di Mesir dan Dunia Arab dengan inisiatif  sendiri membentuk “Lajnatud Difa’ ‘an Indonesia” (Panitia Pembela  Indonesia). Badan ini dideklarasikan pada 16 Oktober 1945 di Gedung  Pusat Perhimpunan Pemuda Islam dengan Jendral Saleh Harb Pasya sebagai pimpinan pertemuan.
Hadir dalam acara itu antara lain Syaikh Hasan Al Banna dan Prof. Taufiq Syawi dari Al-Ikhwan Al-Muslimun, Pemimpin Palestina Muhammad Ali Taher, dan Sekjen Liga Arab Dr. Salahuddin Pasya. Dalam pertemuan yang semata didasari ukhuwah Islamiyah, pakar hukum internasional Dr. M. Salahuddin Pasya menyerukan negara-negara Islam untuk sesegera mungkin mendukung,  membantu, dan mengakui kemerdekaan RI. Selain itu, Panitia Pembela  Indonesia juga mengancam Inggris agar tidak membantu Belanda kembali ke  Indonesia.
“Jika Inggris membantu Belanda untuk kembali ke Indonesia, maka  Inggris akan menuai kemarahan Dunia Islam di Timur Tengah!” ancam  Salahuddin Pasya.
Sejarah telah menulis, Inggris tetap membela “kawan se-Aqidah”  bernama Belanda. Pasukan NICA membonceng Sekutu kembali ke Indonesia.  Pada 25 Oktober 1945, sejumlah ulama NU pimpinan KH. Wahid Hasyim  bertemu dan mengeluarkan fatwa jihad fii sabilillah melawan penjajah.  Fatwa ini bergema ke seluruh nusantara dan disambut dengan gegap  gempita.
Fatwa jihad inilah yang melatarbelakangi pertempuran 10 November 1945 di Surabaya (hingga kini 10 November diperingati sebagai hari Pahlawan di Indonesia, red.). Untuk memompakan keberanian rakyat Surabaya, Bung Tomo lewat corong radio perlawanan – cikal bakal RRI – terus menerus  mengingatkan para mujahid bahwa gerbang surga telah terbuka luas bagi  mereka yang syahid.
Hanya semangat jihad dan keridhaan Allah SWT yang mampu membuat  ribuan rakyat Surabaya berani melawan pasukan Sekutu bersenjata lengkap.
Kedahsyatan pertempuran Surabaya bergema hingga ke Dunia Arab.  Keberanian umat Islam Surabaya mengobarkan jihad melawan pasukan Sekutu  yang habis mabuk kemenangan dalam Perang Dunia II, ditambah tewasnya  satu Jenderal Sekutu – Malaby – di Surabaya, dirasakan oleh kaum  Muslimin Timur Tengah sebagai bagian dari kemenangan Islam atas kaum  kafir. Upaya perlawanan terhadap Inggris di Mesir pun kian membuncah.
Di berbagai lapangan dan Masjid di Kairo, Mekkah, Baghdad, dan  negeri-negeri Timur Tengah, dengan serentak umat Islam mendirikan sholat  ghaib untuk arwah para syuhada di Surabaya. Melihat fenomena itu,  majalah TIME menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam  di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di  dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam  lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.”
Dukungan negara-negara Islam di Timur Tengah terhadap kemerdekaan  Indonesia tidak saja dilakukan dalam tingkat akar rumput, namun juga  dalam dunia diplomasi. Dalam berbagai sidang di Perserikatan  Bangsa-Bangsa, terlihat dengan jelas adanya perbedaan sikap antara  negeri-negeri Muslim yang mendukung Indonesia dengan negeri-negeri salib  yang memandang Indonesia masih bagian dari Belanda.
Wakil-wakil dari Indonesia di sidang PBB, diperbolehkan ikut sidang  setelah negeri-negeri Arab mengakui kedaulatan RI, dalam menghadapi  serangan pihak Sekutu sering menanggapinya dengan cara diplomatis dan  terkesan lunak. Hal ini dikecam keras Muhammad Ali Taher dari Palestina.
“Mengapa kamu masih saja bersikap diplomatis terhadap seseorang yang  ingin menghancurkan negeri kamu!” sanggahnya mengingatkan wakil dari  Indonesia agar tidak takut melawan kezaliman.
Di Mesir, sejak diketahui sebuah negeri Muslim bernama Indonesia  memplokamirkan kemerdekaannya dari penjajah kafir, Al-Ikhwan Al-Muslimun  tanpa kenal lelah terus menerus memperlihatkan dukungannya. Selain  menggalang opini umum lewat pemberitaan media, yang memberikan  kesempatan luas kepada para mahasiswa Indonesia untuk menulis tentang  kemerdekaan Indonesia di koran-koran lokal miliknya, berbagai acara  tabligh akbar dan demonstrasi pun digelar. Para pemuda dan pelajar  Mesir, juga kepanduan Ikhwan, dengan caranya sendiri berkali-kali  mendemo Kedutaan Belanda di Kairo.
Tidak hanya dengan slogan dan spanduk, aksi pembakaran, pelemparan  batu, dan teriakan-teriakan permusuhan terhadap Belanda kerap dilakukan  mereka. Kondisi ini membuat Kedutaan Belanda di Kairo ketakutan. Mereka  dengan tergesa mencopot lambang negaranya dari dinding Kedutaan. Mereka  juga menurunkan bendera merah-putih-biru yang biasa berkibar di puncak  gedung, agar tidak mudah dikenali pada demonstran. Kuatnya dukungan  rakyat Mesir atas kemerdekaan RI, juga atas desakan dan lobi yang  dilakukan para pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun, membuat pemerintah Mesir  mengakui kedaulatan pemerintah RI atas Indonesia pada 22 Maret 1946.
Inilah pertama kalinya suatu negara asing mengakui kedaulatan RI  secara resmi. Dalam kacamata hukum internasional, lengkaplah sudah  syarat Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat. Bukan itu saja, secara  resmi pemerintah Mesir juga memberikan bantuan lunak kepada pemerintah  RI. Sikap Mesir ini memicu tindakan serupa dari negara-negara Timur  Tengah. Untuk menghaturkan rasa terima kasih, pemerintah Soekarno  mengirim delegasi resmi ke Mesir pada tanggal 7 April 1946. Ini adalah  delegasi pemerintah RI pertama yang ke luar negeri. Mesir adalah negara  pertama yang disinggahi delegasi tersebut.
Tanggal 26 April 1946 delegasi pemerintah RI kembali tiba di Kairo.  Beda dengan kedatangan pertama yang berjalan singkat, yang kedua ini  lebih intens. Di Hotel Heliopolis Palace, Kairo, sejumlah pejabat tinggi  Mesir dan Dunia Arab mendatangi delegasi RI untuk menyampaikan rasa  simpati. Selain pejabat negara, sejumlah pemimpin partai dan organisasi  juga hadir. Termasuk pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun Hasan al Banna dan  sejumlah tokoh Ikhwan dengan diiringi puluhan pengikutnya.
Setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia, diikuti serius oleh  setiap Muslim baik di Mesir maupun di Timur Tengah pada umumnya. Para  mahasiswa Indonesia yang saat itu tengah berjuang di Mesir dengan jalan  diplomasi revolusi, senantiasa menjaga kontak dengan Ikhwan. Ketika  Belanda melancarkan agresi Militer I (1947) atas Indonesia, para  mahasiswa Indonesia di Mesir dan aktivis Ikhwan menggalang aksi  pemboikotan terhadap kapal-kapal Belanda yang memasuki selat Suez.
Walau Mesir terikat perjanjian 1888 yang memberi kebebasan bagi siapa  saja untuk bisa lewat terusan Suez, namun keberanian para buruh Ikhwan  yang menguasai Suez dan Port Said berhasil memboikot kapal-kapal  Belanda. Pada tanggal 9 Agustus 1947, rombongan kapal Belanda yang  dipimpin kapal kapal Volendam tiba di Port Said. Ribuan aktivis Ikhwan  yang kebanyakan terdiri dari para buruh pelabuhan, telah berkumpul di  pelabuhan utara kota Ismailiyah itu.
Puluhan motor boat dan motor kecil sengaja berkeliaran di permukaan  air guna menghalangi motor-boat motor-boat kepunyaan  perusahaan-perusahaan asing yang ingin menyuplai air minum dan makanan  kepada kapal Belanda itu. Motor-boat para ikhwan tersebut sengaja  dipasangi bendera merah putih. Dukungan Ikhwan terhadap kemerdekaan  Indonesia bukan sebatas dukungan formalitas, tapi dukungan yang didasari  kesamaan iman dan Islam.
Walau pemimpin Ikhwan Hasan Al Banna menemui syahid ditembak mati  oleh begundal rezim Mesir di siang hari bolong, 12 Februari 1949,  dukungan Ikhwan terhadap muslim Indonesia tidaklah berakhir. Dakwah  tiada kenal kata akhir, hingga Islam membebaskan semua manusia.
Sumber: Al-Ikhwan.net (Majalah Saksi – No. 21 Tahun VI, 18 Agustus 2004. Oleh: Rizki Ridyasmara)
View Separately

Pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM), Hasan Al Banna ternyata pernah menjadi anggota Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia di Mesir. Atas desakan IM, Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI. Dengan demikian, lengkaplah syarat-syarat sebuah negara berdaulat bagi RI.

Kota pelabuhan Iskandariyah pertengah Juli 1945. Jam kayu di sebuah penginapan murah di kota pelabuhan Mesir telah menunjuk angka 22.00 waktu setempat. Di satu ruangan yang tak seberapa besar, empat-puluhan kelasi kapal berkebangsaan Indonesia berkumpul. Sejumlah mahasiswa Indonesia yang tengah studi di Mesir terlihat memimpin rapat.

Beda dengan pertemuan sebelumnya, malam itu atmosfir rapat terasa agak emosionil! Para kelasi Indonesia yang bekerja di berbagai kapal asing yang tengah merapat di Iskandariyah, Port Said, dan Suez itu banyak yang yakin, jihad fii sabilillah yang tengah digelorakan banga Indonesia melawan penjajah belanda dalam waktu dekat akan sampai pada puncaknya. Muhammad Zein Hassan, salah seorang mahasiswa Indonesia yang hadir, berpesan pada para kelasi agar mulai menabung. “Di saat terjadinya jihad, mereka sebaiknya meninggalkan kapal-kapal sekutu agar tidak menodai perjuangan.”

Sambutan para kelasi yang dalam kesehariannya jauh dari tuntunan agama itu sungguh mengharukan. Mereka dengan sepenuh hati menyanggupi hal tersebut. “Jika fatwa sudah turun, kami akan mematuhi,” ujar salah seorang dari mereka. Tak terasa, jam telah berada di angka satu. Acara ditutup dengan sumpah setia dengan perjuangan bangsanya yang nun jauh di seberang lautan.

Seluruh peserta mengangkat tangan kanan dan dikepalkan. Dengan menyebut nama Allah SWT, mereka bertekad akan membantu dengan sekuat tenaga jihad fii sabilillah yang akan digelorakan bangsanya dalam waktu dekat ini. Sumpah para kelasi tersebut tidak main-main. Terbukti di kemudian hari, dua bulan setelah proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta, dua orang kelasi Indonesia tiba di Kairo dengan berjalan kaki dari Tunisia.

“Saat kami tanya mengapa berjalan kaki sejauh itu, mereka menjawab bahwa mereka menerima fatwa yang dibawa teman-teman mereka dari Indonesia. Fatwa itu menyatakan haram hukumnya bekerja dengan orang kafir yang memerangi kaum Muslimin,” ujar Zein Hassan. Walau tidak punya cukup uang, dua orang kelasi itu segera meninggalkan kapal sekutu tempatnya bekerja dan berjalan kaki menuju Mesir, karena di Mesir-lah berada banyak orang sebangsanya.

Di Mesir sendiri kala itu tengah berkembang sikap antipati terhadap penjajahan Inggris. Sikap non kooperatif terhadap penjajah Inggris ini dicetuskan oleh organisasi Al-Ikhwan Al-Muslimun yang mendapat sambutan luar biasa dari rakyat Mesir. Sebagai gerakan dakwah yang menembus sekat geografis, Al-Ikhwan Al-Muslimun telah memiliki “jaringan iman” dengan berbagai gerakan Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Oleh sebab itu, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Sekutu dengan sekuat tenaga memblock-out berita ini masuk ke Timur Tengah. Dikhawatirkan jika kemerdekaan Indonesia sampai didengar umat Islam di sana, ini bisa menjadi inspirasi bagi gerakan serupa di Timur Tengah. Serapat-rapatnya sekutu menutup informasi ini, akhirnya pada awal September 1945, sebulan setelah kemerdekaan Indonesia dibacakan, berita ini sampai juga ke Mesir.

Mansur Abu Makarim, seorang informan Indonesia yang bekerja di Kedutaan Belanda di Kairo, membaca berita kemerdekaan Indonesia dalam suatu artikel di majalah Vrij Nederland. Bagai angin berhembus, berita ini dengan cepat menyebar ke Dunia Islam. Koran dan radio Mesir memuat berita kemerdekaan RI dengan gegap gempita.

Para penyiar dengan penuh semangat mengatakan bahwa inilah awal kebangkitan Dunia Islam melawan penjajahan Barat. Di Mesir saat itu, seorang Arab hanya dihargai sepuluh pound Mesir jika dibunuh atau dilindas kendaraan militer Sekutu tanpa hak mengadu atau menggugat. Sebab itu, proklamasi kemerdekaan sebuah negeri Muslim terbesar di dunia ini disambut dengan luapan kebahagiaan.

Di sejumlah kota, Al-Ikhwan Al-Muslimun segera menggelar munasharoh -solidasitas- besar-besaran mendukung penuh kemerdekaan Indonesia. Ini dijadikannya momentum yang bagus untuk memerdekakan Mesir dari Inggris. Bukan itu saja, sejumlah ulama di Mesir dan Dunia Arab dengan inisiatif sendiri membentuk “Lajnatud Difa’ ‘an Indonesia” (Panitia Pembela Indonesia). Badan ini dideklarasikan pada 16 Oktober 1945 di Gedung Pusat Perhimpunan Pemuda Islam dengan Jendral Saleh Harb Pasya sebagai pimpinan pertemuan.

Hadir dalam acara itu antara lain Syaikh Hasan Al Banna dan Prof. Taufiq Syawi dari Al-Ikhwan Al-Muslimun, Pemimpin Palestina Muhammad Ali Taher, dan Sekjen Liga Arab Dr. Salahuddin Pasya. Dalam pertemuan yang semata didasari ukhuwah Islamiyah, pakar hukum internasional Dr. M. Salahuddin Pasya menyerukan negara-negara Islam untuk sesegera mungkin mendukung, membantu, dan mengakui kemerdekaan RI. Selain itu, Panitia Pembela Indonesia juga mengancam Inggris agar tidak membantu Belanda kembali ke Indonesia.

“Jika Inggris membantu Belanda untuk kembali ke Indonesia, maka Inggris akan menuai kemarahan Dunia Islam di Timur Tengah!” ancam Salahuddin Pasya.

Sejarah telah menulis, Inggris tetap membela “kawan se-Aqidah” bernama Belanda. Pasukan NICA membonceng Sekutu kembali ke Indonesia. Pada 25 Oktober 1945, sejumlah ulama NU pimpinan KH. Wahid Hasyim bertemu dan mengeluarkan fatwa jihad fii sabilillah melawan penjajah. Fatwa ini bergema ke seluruh nusantara dan disambut dengan gegap gempita.

Fatwa jihad inilah yang melatarbelakangi pertempuran 10 November 1945 di Surabaya (hingga kini 10 November diperingati sebagai hari Pahlawan di Indonesia, red.). Untuk memompakan keberanian rakyat Surabaya, Bung Tomo lewat corong radio perlawanan – cikal bakal RRI – terus menerus mengingatkan para mujahid bahwa gerbang surga telah terbuka luas bagi mereka yang syahid.

Hanya semangat jihad dan keridhaan Allah SWT yang mampu membuat ribuan rakyat Surabaya berani melawan pasukan Sekutu bersenjata lengkap.

Kedahsyatan pertempuran Surabaya bergema hingga ke Dunia Arab. Keberanian umat Islam Surabaya mengobarkan jihad melawan pasukan Sekutu yang habis mabuk kemenangan dalam Perang Dunia II, ditambah tewasnya satu Jenderal Sekutu – Malaby – di Surabaya, dirasakan oleh kaum Muslimin Timur Tengah sebagai bagian dari kemenangan Islam atas kaum kafir. Upaya perlawanan terhadap Inggris di Mesir pun kian membuncah.

Di berbagai lapangan dan Masjid di Kairo, Mekkah, Baghdad, dan negeri-negeri Timur Tengah, dengan serentak umat Islam mendirikan sholat ghaib untuk arwah para syuhada di Surabaya. Melihat fenomena itu, majalah TIME menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.”

Dukungan negara-negara Islam di Timur Tengah terhadap kemerdekaan Indonesia tidak saja dilakukan dalam tingkat akar rumput, namun juga dalam dunia diplomasi. Dalam berbagai sidang di Perserikatan Bangsa-Bangsa, terlihat dengan jelas adanya perbedaan sikap antara negeri-negeri Muslim yang mendukung Indonesia dengan negeri-negeri salib yang memandang Indonesia masih bagian dari Belanda.

Wakil-wakil dari Indonesia di sidang PBB, diperbolehkan ikut sidang setelah negeri-negeri Arab mengakui kedaulatan RI, dalam menghadapi serangan pihak Sekutu sering menanggapinya dengan cara diplomatis dan terkesan lunak. Hal ini dikecam keras Muhammad Ali Taher dari Palestina.

“Mengapa kamu masih saja bersikap diplomatis terhadap seseorang yang ingin menghancurkan negeri kamu!” sanggahnya mengingatkan wakil dari Indonesia agar tidak takut melawan kezaliman.

Di Mesir, sejak diketahui sebuah negeri Muslim bernama Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya dari penjajah kafir, Al-Ikhwan Al-Muslimun tanpa kenal lelah terus menerus memperlihatkan dukungannya. Selain menggalang opini umum lewat pemberitaan media, yang memberikan kesempatan luas kepada para mahasiswa Indonesia untuk menulis tentang kemerdekaan Indonesia di koran-koran lokal miliknya, berbagai acara tabligh akbar dan demonstrasi pun digelar. Para pemuda dan pelajar Mesir, juga kepanduan Ikhwan, dengan caranya sendiri berkali-kali mendemo Kedutaan Belanda di Kairo.

Tidak hanya dengan slogan dan spanduk, aksi pembakaran, pelemparan batu, dan teriakan-teriakan permusuhan terhadap Belanda kerap dilakukan mereka. Kondisi ini membuat Kedutaan Belanda di Kairo ketakutan. Mereka dengan tergesa mencopot lambang negaranya dari dinding Kedutaan. Mereka juga menurunkan bendera merah-putih-biru yang biasa berkibar di puncak gedung, agar tidak mudah dikenali pada demonstran. Kuatnya dukungan rakyat Mesir atas kemerdekaan RI, juga atas desakan dan lobi yang dilakukan para pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun, membuat pemerintah Mesir mengakui kedaulatan pemerintah RI atas Indonesia pada 22 Maret 1946.

Inilah pertama kalinya suatu negara asing mengakui kedaulatan RI secara resmi. Dalam kacamata hukum internasional, lengkaplah sudah syarat Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat. Bukan itu saja, secara resmi pemerintah Mesir juga memberikan bantuan lunak kepada pemerintah RI. Sikap Mesir ini memicu tindakan serupa dari negara-negara Timur Tengah. Untuk menghaturkan rasa terima kasih, pemerintah Soekarno mengirim delegasi resmi ke Mesir pada tanggal 7 April 1946. Ini adalah delegasi pemerintah RI pertama yang ke luar negeri. Mesir adalah negara pertama yang disinggahi delegasi tersebut.

Tanggal 26 April 1946 delegasi pemerintah RI kembali tiba di Kairo. Beda dengan kedatangan pertama yang berjalan singkat, yang kedua ini lebih intens. Di Hotel Heliopolis Palace, Kairo, sejumlah pejabat tinggi Mesir dan Dunia Arab mendatangi delegasi RI untuk menyampaikan rasa simpati. Selain pejabat negara, sejumlah pemimpin partai dan organisasi juga hadir. Termasuk pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun Hasan al Banna dan sejumlah tokoh Ikhwan dengan diiringi puluhan pengikutnya.

Setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia, diikuti serius oleh setiap Muslim baik di Mesir maupun di Timur Tengah pada umumnya. Para mahasiswa Indonesia yang saat itu tengah berjuang di Mesir dengan jalan diplomasi revolusi, senantiasa menjaga kontak dengan Ikhwan. Ketika Belanda melancarkan agresi Militer I (1947) atas Indonesia, para mahasiswa Indonesia di Mesir dan aktivis Ikhwan menggalang aksi pemboikotan terhadap kapal-kapal Belanda yang memasuki selat Suez.

Walau Mesir terikat perjanjian 1888 yang memberi kebebasan bagi siapa saja untuk bisa lewat terusan Suez, namun keberanian para buruh Ikhwan yang menguasai Suez dan Port Said berhasil memboikot kapal-kapal Belanda. Pada tanggal 9 Agustus 1947, rombongan kapal Belanda yang dipimpin kapal kapal Volendam tiba di Port Said. Ribuan aktivis Ikhwan yang kebanyakan terdiri dari para buruh pelabuhan, telah berkumpul di pelabuhan utara kota Ismailiyah itu.

Puluhan motor boat dan motor kecil sengaja berkeliaran di permukaan air guna menghalangi motor-boat motor-boat kepunyaan perusahaan-perusahaan asing yang ingin menyuplai air minum dan makanan kepada kapal Belanda itu. Motor-boat para ikhwan tersebut sengaja dipasangi bendera merah putih. Dukungan Ikhwan terhadap kemerdekaan Indonesia bukan sebatas dukungan formalitas, tapi dukungan yang didasari kesamaan iman dan Islam.

Walau pemimpin Ikhwan Hasan Al Banna menemui syahid ditembak mati oleh begundal rezim Mesir di siang hari bolong, 12 Februari 1949, dukungan Ikhwan terhadap muslim Indonesia tidaklah berakhir. Dakwah tiada kenal kata akhir, hingga Islam membebaskan semua manusia.

Sumber: Al-Ikhwan.net (Majalah Saksi – No. 21 Tahun VI, 18 Agustus 2004. Oleh: Rizki Ridyasmara)

    • #Ikhwanulmuslimin
    • #Hasan Al-Banna
    • #Kemerdekaan
    • #indonesia
    • #hari pahlawan
  • 6 months ago
  • 4
  • Permalink
  • Share
    Tweet

4 Notes/ Hide

  1. max-tollenaar reblogged this from shinorenji
  2. max-tollenaar liked this
  3. shinorenji reblogged this from riopale
  4. ephiorephi reblogged this from riopale
  5. riopale posted this
← Previous • Next →

Portrait/Logo

About

bismillah...
yes, you will understand me when you know me.
I'm a muslim, and a writer-wanna-be who love to read. ah, whatever...
anyway, please enjoy my things here!

Pages

  • Profil Saya

Me, Elsewhere

  • @@RioPale12 on Twitter
  • Facebook Profile

Twitter

loading tweets…

Following

I Dig These Posts

See more →
  • Photoset via radicalijtihad

    fleurdelalune:

    khatman:

    Sooraya Qadir, the niqabi Afghan mutant whom is fluent in Arabic and English and despite her attempts at...

    Photoset via radicalijtihad
  • Video via farahmafaza
    Video
    Video via farahmafaza
  • Photo via ranniemursanti

    WE STILL PROUD OF U, U-23. :*
    GARUDA DI DADAKU. <3

    Photo via ranniemursanti
  • Quote via ristiani
    “

    Perumpamaan kita di jalan ini seperti ombak yang mengepung di berbagai penjuru.
    Bahtera yang menembus berbagai gelombang, seperti jalan yang harus...

    ”
    Quote via ristiani
  • Post via thebeautyofislam
    RAMADAN COUNTDOWN: 60 days remain till Ramadan 1432H, insha'Allaah

    InshAllah we all live till then and make the best of it.

    Post via thebeautyofislam
  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Ask me anything
  • Mobile

Effector Theme by Carlo Franco.

Powered by Tumblr