myupdate: nikah-walimah mas andrei
bismillah…
haaa… capenya. akhir pekan ini saya isi dengan bantu-bantu, dandan-dandan, makan-makan, foto-foto, dan pesta-pesta. hah… betapa serunya kalau keluarga Papa kumpul. semuanya keluar aslinya. dan yang paling seru, kalo semuanya sudah saling timpa bahan banyolan, atau yang sering akrab disebut dalam dialek Palembang; KELAKAR. ya, kelakar adalah kebiasaan wajib di keluarga saya.
hah… by the way, tadi mas andre amat-sangat-sangat-amat dramatis akad nikahnya. berangkat ke rumah calonnya aja takut telat, karena nungguin pakde saya yang ga tau jalan, lalu deg-degan sepanjang jalan, yang bikin dia nitipin handphone-nya ke saya, sampai juga dramatisnya ke upacara ijab-kabul yang lumayan menyita tenaga. gimana enggak, empat kali ngulang mamen!… EMPAT KALI. yang pertama, calon mertua yang salah, yang kedua, mas Andrei yang salah, yang ketiga mas Andrei lagi, barulah yang keempat lancar. alhamdulillah… barokallahu laka wa baroka ‘alayka wa jama’a baynakuma fii khoir. aamiin.

glek… glek… deg… deg…
setelah upacara ijab-kabul yang sakral itu, bergilirlah keluarga kami menyumbangkan lagu-lagu andalan. dimulai dari mbak Ferta, yang menyumbangkan satu hits lagu jadul, satu lagi lagu dangdut pop. tapi tenang… tidak (belum) terjadi apa-apa. lalu disusul oleh mbak Devi, yang juga menyumbang lagu jadul. aman… aman…
setelah mbak, Devi, tentulah Papa gak mau ketinggalan. mantan drummer Locomotive band (band Rock local Palembang 80an) seperti Papa, wajiblah kasih speech sambil nyanyi sama nyokap. beuh…
‘kebetulan kami sekeluarga dari palembang ini memang semuanya suka dan bisa main musik, salah satunya Ferta tadi, yang jadi manajer band beberapa band lokal Palembang, termasuk juga Andri, yang pandai main keyboard… ya, Andri memang Organis (*organis apa deh Pa.. hehe, maksud Papa pemain organ, atau keyboardis)’
nyanyi satu lagu, kelar. masih aman. terakhir mbak Riska yang dipanggil Papa ke panggung. dipanggilnya mbak Riska inilah yang mengundang ‘kerusuhan’ di panggung (baca: ruang kosong gedung di depan pelaminan).
tanpa di sangka, mbak Riska ngajak Papa untuk bernyanyi. apa lagunya? KEBILE-BILE! gila! itu lagu daerah Palembang yang jadul dan melayu banget! sementara, perlu dicatat bahwa, pesta ini dilaksanakan di PURWAKARTA! ya! PURWAKARTA yang kental dengan adat sunda yang santun!.
layaknya lagu melayu (melayu murni, bukan ST12 atau the Bagindas, dan band-band sasaran pasar-perusak musik melayu tulen lainnya), pastilah mengundang para penontonnya untuk ikut berdendang dan menari. jadilah semua keluarga Papa terjun ke lantai itu. pesta mulai menggila. sementara; undangan lain hanya melongo sambil makan makanan hidangan khas pesta. ya, semua ini salah Mbak Riska, dia pelakunya! hehe..

absen: pakde, bude, mas, mbak… ah semuanya deh. rusuh. haa..
keadaan ini menjadi memanas saat;

mantan rocker dikasih keyboard begini nih… that’s my father! ambil alih keyboardnya!
dan pesta berlangsung makin gila;

Tanggung jawab! penganten jadi ikutan kan…
dan;

nah lho… tariannya mulai memanas.
lalu,

bulek pun ikutan berdendang, lirik pantun dalam irama melayu
huah…. capenya. tapi hari ini adalah hari sangat historis bagi saya. ya, kelak tak ada lagi mas yang biasanya ngasih wejangan kala liburan di rumah tempat kita tumbuh bersama itu. sudah keputusan mas andre bakal ngontrak rumah lagi, ga bareng ma Papa, ibu, dan adik-adik saya.
akhirnya, saya mulai berpikir, bahwa ternyata saya sudah banyak juga umurnya. jadi keder juga mikir masa depan saya, sementara, selama ini, masih sering galau dengan masalah-masalah kecil di kampus. tapi kemudian alhamdulillah teringat nasehat seorang guru dulu waktu di SMA Nurul Fikri,
1 Notes/ Hide
-
deakhumaira said:
rio pulang ke palembang?
-
riopale posted this
