tentang cita-cita (part 2)
Setelah beberapa tahun kemudian, saya belajar di tempat yang berbeda. Ya, artinya saya sudah tidak belajar di taman kanak-kanak lagi, tapi di sekolah dasar. Waktu itu umur saya sekitar delapan tahun.
Umur 8 tahun adalah babak baru dalam perubahan arah cita-cita saya. Sejak kecil sampai pada umur ini, saya mulai belajar membaca Al-Qur’an. pada umur-umur sekolah dasar ini, tak ingat saya sudah berapa kali masuk-keluar-masuk-keluar TPA. Bukan karena saya pandai mengaji, sehingga saya sudah bosan dengan ustadz/ustadzah itu-itu saja, tapi memang saya terbilang bandel untuk mengaji di dalam kelas dan duduk rapi. Ditambah lagi kelas itu berarti ruang utama masjid. Untunglah, hal itu terjadi pada umur-umur 10-11 tahun dalam hidup saya. Sedangkan, pada umur 8 tahun ini, saya sudah sering mengaji dengan mbah saya, yang di awal sudah saya ceritakan. Waktu itu, saya belajar membaca Al-Qur’an dengan membaca juz ‘amma. Tentu saja, untuk ukuran umur 8 tahun juz ‘amma adalah hal yang sulit, sehingga sebenarnya, saya hanya menghafal surat-surat itu saja, karena setiap hurufnya mbah saya yang memberitahu saya cara membacanya. Sayang, saat itu saya tidak menamatkan ‘belajar baca Al-Qur’an’ saya itu sampai selesai. Hanya tamat sampai surat Al-Ma’un kalau tidak salah. Dasar anak kecil bandel.
Pada umur-umur itu pula, saya mulai sering menonton acara-acara ilmiah di televisi. Tenang kawan, acara-acara ilmiah ini tidak ‘seilmiah’ yang kawan-kawan pikirkan. Pada saat itu, saya hanya sangat terkesan dengan berita-berita tentang luar angkasa, tentang pesawat ruang angkasa, tentang planet-planet, tata surya, dan juga tentang orang-orang yang memakai pakaian yang rumit yang bekerja dengan hal-hal seperti itu, yang disebut dan dinamai astronot.
Maka suatu ketika, pada 8 tahunan itu, saya ditanya oleh beberapa orang tentang cita-cita, saya menjawab dengan lantang menjawab; ‘astronot!’ mantap sekali bukan? Pergi keluar angkasa, Cuma makan jeli-jeli kecil, dan cukup dengan itu, lalu melakukan penelitian di planet-planet baru, dan jikalau beruntung bisalah bertemu dengan kehidupan baru di luar sana. Menarik bukan?! Ya! Itulah yang saya pikirkan ketika itu. seorang bandel kecil pendiam yang bermimpi menjadi seorang astronot.
Di suatu pagi, saya duduk dekat dengan Papa saya, yang kala itu libur kerjanya, kalau tidak salah hari sabtu ketika itu. dengan polos saya bertanya, ‘Pa, jadi astronot itu hebat ga Pa?’ sambil mengerik jenggotnya dengan tangan dan pinset, papa lalu mulai memperbaiki duduknya, untuk menjawab pertanyaan anak bungsunya ini. ‘hebat nak… hebatlah… minimal harus bisa 5 bahasa’. Mendengar itu, saya lalu mulai berkoreksi, dalam hati, ha? Lima bahasa? Walaupun saat ini, saya tidak tahu dari mana sumbernya papa bisa bilang seperti itu. ‘ya, lima bahasa nak karena nanti bisa jadi ia memulai perjalanan ruang angkasanya di negara-negara yang berbeda’. Lanjut papa. Saya merenung lagi, ‘waw bisa tidak yah? Lima bahasa?’ diam-diam kemudian saya simpan cita-cita ini, karena memang menjadi astronot adalah suatu hal yang sangat keren, namun lima bahasa untuk ukuran bocah 8 tahunan adalah hal besar.
