rio.guia.deus!

  • Random
  • Archive
  • RSS
  • Ask me anything
barangkali orang akan berkata: “bukankah Islam itu bersifat  ‘demokratis’? kita jawab: Islam bersifat ‘demokratis’ dengan arti bahwa  Islam itu anti istibdad, anti absolutisme, anti sewenang-wenang. Akan  tetapi ini tidak berarti bahwa dalam pemerintahan Islam itu semua urusan  diserahkan kepada keputusan musyawarah majelis syura. Dalam Parlemen  Negara Islam, tidaklah akan dipermusyawaratkan terlebih dahulu apakah  yang harus menjadi dasar bagi pemerintahan, dan  tidaklah mesti ditunggu keputusan parlemen terlebih dahulu, apakah perlu  diadakan pembasmian meminum arak atau tidak. Tidak ditunggu persetujuan  parlemen untuk penghapusan judi dan kecabulan, tdan tidak perlu  dimusyawarahkan apakah perlu diadakan pemberantasan khurafat dan  kemusyirikan atau tidak, dan sebagainya. Bukan! ini semua bukan hak  musyawarat Parlemen.
Yang mungkin diperbincangkan ialah cara-caranya untuk menjalankan semua hukum itu. Adapun prinsip dan kaedah sudah tetap,  tidak boleh dibongkar-bongkar lagi, tidak mesti diserahkan pula lebih  dulu kepada hasil undian menurut sistem “separo-tambah-satu-suara”.  Tidak mungkin dan tidak boleh diserahkan lebih dulu kepada hasilnya  perundang-undangan, kepada turun-naiknya pasang politik kenegaraan.
kita  akui demokrasi, baik! Akan tetapi sistem kenegaraan Islam tidak  menggantungkan semua urusan kepada kerahiman instelling-instelling  demokrasi. Perjalanan demokrasi dari abad ke abad telah memperlihatkan  beberapa sifatnya yang baik. Akan tetapi ia tidak pula sunyi dari  pelbagai sifat-sifat yang berbahaya.
Kita orang Islam cukup mengenal apakah akibatnya demokrasi itu telah merosot menjadi “partai”-cratie atau menjadi “kliek-partie”  lengkap dengan segala main pencak dan sunglap di belakang layarnya.  Dalam hal ini antara lain Kemal Pasya sendiri adalah seorang yang amat  cakap dan licin mempergunakan segala “cratie” itu dalam peranan silat  politik. Kalau oleh karena ini, oleh karena Islam tidak hendak  menggantungkan semua keputusan dan oeraturannya kepada yang dinamakan  demokrasi semacam itu, kalau oleh karena itu Islam tidak hendak  dinamakan bersifat demokratis, itu terserah! Islam adalah suatu  pengertian suatu paham, suatu bergrip sendiri, yang mempunyai  sifat-sifat sendiri pula. Islam bukan demokrasi 100%, bukan otokrasi  100%. Islam itu….., ya Islam!
(Muhammad Natsir, dalam menanggapi rangkaian tulisan Ir Soekarno, ‘Memudakan Pengertian Islam’)
View Separately

barangkali orang akan berkata: “bukankah Islam itu bersifat ‘demokratis’? kita jawab: Islam bersifat ‘demokratis’ dengan arti bahwa Islam itu anti istibdad, anti absolutisme, anti sewenang-wenang. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa dalam pemerintahan Islam itu semua urusan diserahkan kepada keputusan musyawarah majelis syura. Dalam Parlemen Negara Islam, tidaklah akan dipermusyawaratkan terlebih dahulu apakah yang harus menjadi dasar bagi pemerintahan, dan tidaklah mesti ditunggu keputusan parlemen terlebih dahulu, apakah perlu diadakan pembasmian meminum arak atau tidak. Tidak ditunggu persetujuan parlemen untuk penghapusan judi dan kecabulan, tdan tidak perlu dimusyawarahkan apakah perlu diadakan pemberantasan khurafat dan kemusyirikan atau tidak, dan sebagainya. Bukan! ini semua bukan hak musyawarat Parlemen.

Yang mungkin diperbincangkan ialah cara-caranya untuk menjalankan semua hukum itu. Adapun prinsip dan kaedah sudah tetap, tidak boleh dibongkar-bongkar lagi, tidak mesti diserahkan pula lebih dulu kepada hasil undian menurut sistem “separo-tambah-satu-suara”. Tidak mungkin dan tidak boleh diserahkan lebih dulu kepada hasilnya perundang-undangan, kepada turun-naiknya pasang politik kenegaraan.

kita akui demokrasi, baik! Akan tetapi sistem kenegaraan Islam tidak menggantungkan semua urusan kepada kerahiman instelling-instelling demokrasi. Perjalanan demokrasi dari abad ke abad telah memperlihatkan beberapa sifatnya yang baik. Akan tetapi ia tidak pula sunyi dari pelbagai sifat-sifat yang berbahaya.

Kita orang Islam cukup mengenal apakah akibatnya demokrasi itu telah merosot menjadi “partai”-cratie atau menjadi “kliek-partie” lengkap dengan segala main pencak dan sunglap di belakang layarnya. Dalam hal ini antara lain Kemal Pasya sendiri adalah seorang yang amat cakap dan licin mempergunakan segala “cratie” itu dalam peranan silat politik. Kalau oleh karena ini, oleh karena Islam tidak hendak menggantungkan semua keputusan dan oeraturannya kepada yang dinamakan demokrasi semacam itu, kalau oleh karena itu Islam tidak hendak dinamakan bersifat demokratis, itu terserah! Islam adalah suatu pengertian suatu paham, suatu bergrip sendiri, yang mempunyai sifat-sifat sendiri pula. Islam bukan demokrasi 100%, bukan otokrasi 100%. Islam itu….., ya Islam!

(Muhammad Natsir, dalam menanggapi rangkaian tulisan Ir Soekarno, ‘Memudakan Pengertian Islam’)

    • #Muhammad Natsir
    • #Muslim
    • #Negarawan
    • #Negara
    • #Islam
  • 5 months ago
  • 3
  • Permalink
  • Share
    Tweet

3 Notes/ Hide

  1. enforcement89to liked this
  2. max793 liked this
  3. riopale posted this
← Previous • Next →

Portrait/Logo

About

bismillah...
yes, you will understand me when you know me.
I'm a muslim, and a writer-wanna-be who love to read. ah, whatever...
anyway, please enjoy my things here!

Pages

  • Profil Saya

Me, Elsewhere

  • @@RioPale12 on Twitter
  • Facebook Profile

Twitter

loading tweets…

Following

I Dig These Posts

See more →
  • Photoset via radicalijtihad

    fleurdelalune:

    khatman:

    Sooraya Qadir, the niqabi Afghan mutant whom is fluent in Arabic and English and despite her attempts at...

    Photoset via radicalijtihad
  • Video via farahmafaza
    Video
    Video via farahmafaza
  • Photo via ranniemursanti

    WE STILL PROUD OF U, U-23. :*
    GARUDA DI DADAKU. <3

    Photo via ranniemursanti
  • Quote via ristiani
    “

    Perumpamaan kita di jalan ini seperti ombak yang mengepung di berbagai penjuru.
    Bahtera yang menembus berbagai gelombang, seperti jalan yang harus...

    ”
    Quote via ristiani
  • Post via thebeautyofislam
    RAMADAN COUNTDOWN: 60 days remain till Ramadan 1432H, insha'Allaah

    InshAllah we all live till then and make the best of it.

    Post via thebeautyofislam
  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Ask me anything
  • Mobile

Effector Theme by Carlo Franco.

Powered by Tumblr