terima kasih hakiki
jendelaku telah bersekongkol
dengan hangatnya mentari
bersama kabut putih
membarengi hiruk-pikuk.
masih aku bersarung
belum juga mandi
sementara sahabatku tak terlihat lagi.
hendak apa aku hari ini
sudah tersusun-susun, tersimpan-simpan
sementara mentari meninggi.
entah apalah yang ada di kepala
aku hanya ingin ekspresi
atas ketenangan hati,
kelalaian jiwa,
juga terima kasih atas detik-detik ini.
sepotong kata yang tak mudah sepagi ini untuk diceritakan.
alhamdulillah
