when i was punk. hehe…
bismillah…
sesuatu yang tersangkut di kepala saya, berulang-ulang dan ulang. ulang dan ulang. ulang, akan terus muncul sebelum saya menuliskannya. maka kali ini saya akan menuliskan salah satu memori yang seperti itu, memori yang sering membuat saya tersenyum sendiri dengan kesendirian.
memori itu adalah sebuah cerita sederhana ketika dulu saya mengenal alat musik pukul yang dinamis itu, drum. dan satu potongan cerita yang paling menggelitik dan memberontak saat ini adalah cerita ketika -eral (baca: mineral), band saya dulu sma, manggung di pesta perpisahan kelulusan kelas tiga. waktu itu kami baru kelas satu, menjelang naik ke kelas dua.
setelah berlatih beberapa lama, kami sudah menyiapkan lagu yang kami bawakan dan alirannya… ehem punk rock. saat itu saya dan teman-teman saya masih gandrung dengan punk rock, di saat orang-orang sudah tidak terlalu menyukainya lagi. lagu yang kami bawakan berjudul ‘American Idiot’ siapa yang tidak kenal dengan lagu milik Green Day ini?
hari audisi tiba. di audisi, karena kami rasa lagu itu terlalu keras, jadi kami membawakan lagu ciptaan saya, lagu punk yang lebih nge-pop-lah, dibanding American Idiot. audisi berjalan lancar, dan kami masuk daftar. yang menarik, usut punya usut, ternyata audisi yang dinilai juga oleh guru kesenian ini hanya untuk menentukan jadwal tampil. itu saja.
hari H tiba, kami pun bertanya kepada kakak ketua osis, kak annisa namanya. kami mengenalnya lebih dekat karena kak annisa-perempuan tangguh ini-juga anggota rohis. ya, sebagian dari kami adalah anak rohis yang bandel, karena doyan punk rock.hehe…
dan ternyata, di jadwal tampil, kami dapat nomor urut ke tujuh, kalau tidak salah, dari sepuluh band saja yang tampil. oh, sungguh malas menunggu selama itu. dengan wajah memelas, kami minta kepada kak annisa untuk memajukan jadwal tampil kami, yah, nomor dua lah.. begitu kira-kira. dengan tidak banyak debat, kak annisa sepakat. segera ia hubungi panitia. panitia mana yang tidak nurut pada perintah ketua osis? hehe…
acara hiburan dimulai, MC pun memanggil sebuah nama band, yang dipanggil pertama kali adalah band…
-eral !
ya, band kami. kaget juga jadinya, minta nomor dua malah dikasih nomor satu. karena personil yang berpencar-pencar. hanya saya dan agung, bassist band kami yang siap naik, saya jadi pontang-panting mencari personil yang lain. ada yang dikerumuni teman-teman perempuan, ada yang ‘di belakang dan entah ngapain duduk-duduk begitu’, ada juga yang pacaran. tapi syukur kemudian, saya, agung dan arlan (guitarist 2) kami sudah siap, kami naik panggung bertiga. tinggal sigit (vokalis) dan novan (guitarist 1).
guru kesenian kami risau, kenapa jadi kami duluan yang notabene-nya band ‘anak muda’ tampil duluan, padahal masih ada pejabat sekolah dan kecamatan saat itu, kalau tidak salah. beliau pun terlibat percakapan hebat dengan sigit dan ini bagian yang terbaik dari cerita ini;
guru kesenian: kok -eral band duluan yah? bukan Odua (band yang seharusnya duluan dan beraliran pop) dulu?
sigit: iya ya pak… kok, -eral duluan ya pak?
guru kesenian: iya.. kamu anak band Odua??
sigit: bukan Pak, saya anak band -eral (sambil kalem naik panggung)
ini terjadi setelah novan sadar dan naik panggung. naiknya sigit ke panggung pun disambut dengan teriakan-teriakan dari teman-teman perempuannya. sigit memang tidak pacaran, tapi dia dekat dengan banyak teman perempuan.
di tengah lagu, sesuai dengan latihan, saya diberikan waktu oleh teman-teman yang lain untuk solo drum, sambil sigit memperkenalkan nama panggung saya saat itu; ‘Rio Cool!’ begitu teriaknya, dan makin ramai saja teman-teman perempuan sigit itu tadi. sementara para pejabat sekolah dan guru-guru melengos dan saling menatap satu sama lain.
bandel sekali kami waktu itu… hehe…
…
berkaca dengan waktu sekarang, bermusik saja sudah jarang, dan entah kenapa, sepertinya kemeriahan panggung seperti suatu yang kurang baik di mata saya.
kadang saya berpikir, saya pernah melihat seorang fans maher zein diwawancarai sambil menangis sendu. muncul pertanyaan di kepala saya, apa benar ia menangis karena isi lirik yang dinyanyikan maher zein seperti yang ia ungkapkan, atau hanya haru saja, akhirnya bisa melihat sang idola di hadapannya. tidak bedanya seorang fans menangisi sebuah band rock, di mana kejadian ini sering terjadi di konser-konser.
tapi jujur, rasa senang ketika di panggung seperti saat itu tidak tergantikan. mungkin suatu hari nanti saya menemukan pelampiasan lain yang secara logika agama dan etika baik, dan secara naluri juga memuaskan. walau entah apa itu.
atau mungkin saya hanya salah? yah, setidaknya saya tidak pernah menyesal lahir dari keluarga yang suka musik. hehe…
*nb: jika pemahaman saya memang salah mohon diluruskan ^^,
1 Notes/ Hide
-
dindapratika said:
lu pasti suka nirvana, sok tau hahahaha
-
riopale posted this
