myupdate: Pale dan Karamat Wangi
Karamat Wangi di Mata Seorang Pemuda dari Selatan Sumatra
pagi hari yang dingin jatinangor telah menyapaku untuk segera mengambil alat mandi dan pakaian kebesaran yang tampan. Ya, pagi itu adalah pagi di mana aku akan meninggalkan jatinangor, dan tinggal di desa selama satu bulan. Malamnya telah kurpersiapkan segalanya, pakaian, alat makan, buku bacaan, dan tidak lupa kalam Tuhan yang sering disebut bacaan dalam bahasa arab, ya, benda yang satu ini tidak boleh tertinggal bagiku.
Segera ku sandang kaos lengan panjang yang baru beberapa minggu saja ku buat bersama teman-temanku, saat kemarin kami mengikuti lomba yang mengukur kemahasiswaan kita seradikal-radikalnya di bidang kreativitas. Tidak lupa pula jas almamater tercinta. Dengan terengah, aku sampai di kampus. Seorang sahabat segera memanggil-manggil kepergianku, aku yang sudah mendapatkan tumpangan nyaman di belakang sebuah motor besar milik kakak tingkatku ini berhenti sejenak. Ternyata, temanku itu menyampaikan lembaran kartu berisi doa dari pihak Badan Eksekutif Mahasiswa, kendati aku bukan seorang pengurus BEM, aku agak merasa tersanjung dan bangga pada temanku ini.
Dengan peluh yang mulai menumpuk, aku mondar-mandir. Apa kerjaku? Aku mencari bus yang akan memuatku sampai ke desa. Dan ternyata, duhai memang Allah Maha Tahu, dan hambaNya ini bodoh, bus yang kucari ada di depan mataku persis dari tadi aku turun dan mulai mencari. Siapa yang salah? Tentunya bukan hamba yang bodoh yang membuat tulisan ini, tentulah orang yang membuat nama bus. Tertulis di bus: KARANG Wangi, sementara desa yang ku tuju itu bernama asli: KARAMAT WANGI. Ya, Karamat Wangi, di desa inilah sebulan petualangan aku dan 23 mahasiswa lainnya di mulai.
Desa Karamat Wangi adalah desa yang indah, di sudut kecamatan cikajang, desa ini dilingkari oleh perbukitan yang diisi dengan pepohonan pinus dan dibelah oleh sebuah sungai jernih. Desa yang baru berumur 6 bulan ini merupakan desa pemekaran dari desa cipangramatan kecamatan cikajang. Selain pepohonan pinus, desa ini juga dibentangi dengan perkebunan teh. Sesekali terlihat orang-orang bekerja sama memikul, menumpuk, dan menggali tanah. Ditambah pula suara mesin aneh – karena baru kali pertama ini aku melihatnya – yang ramai 24 jam. Ya, desa ini menyimpan emas di perutnya, di atas pepohonan yang penuh tadi. Dengan keadaan yang seperti ini, aku dan beberapa teman membayangkan, betapa mungkin kami akan kerasan tinggal di sini, selain indah, rumah yang menjadi tempat tinggal kami selama sebulan adalah rumah yang benar-benar di luar gambaran horror kami tentang tinggal di desa. Tidak ada kamar mandi di atas balong (kolam ikan pengurai kotoran), tidak ada rebutan cuci baju di balong tadi, karena ada mesin cuci, tidak ada warga yang tidak ramah, bahkan kami tinggal di rumah seorang Ustadz, semua yang ada di sini sangat mendukung kegiatan kami benar-benar selama sebulan.
Sore setelah baru sampai, dengan sigap, sahabatku yang telah terpilih menjadi koordinator kelompok desa itu langsung memimpin kami rapat. Hasilnya, besok-besok kami sudah harus memulai kegiatan pemetaan.
Dengan turun naik bukit, ternyata baru ku sadari, desa ini sangat luas, pemetaan kami pun berlangsung cukup lama dan sangat melelahkan. Untunglah kami dihibur dengan sejumlah pemandangan hebat karya sang Maha Hebat. Dan ternyata yang lebih mencengangkannya lagi, kami ternyata hanya menyelesaikan pemetaan di desa dua dan tiga saja. Sementara desa satu belum juga kami jelajah! Dua-tiga bukit ternyata belum selesai juga! Ffuh…
Setelah selesai melakukan pemetaan di dusun satu, barulah kami tahu keseluruhan potensi yang ada di desa ini. Dusun satu ini dibentangi perkebunan teh, yang disebut oleh warga sekitar dengan sebutan perkebunan teh megawati. Di sini, ada puluhan keluarga menggantungkan hidupnya dengan terjun ke perkebunan menjadi buruh petik. Dengan mempekerjakan 8 mandor, (setiap mandor membawahi 20-24 orang buruh), PT Cakra – perusahaan yang mempunyai hak kepemilikan atas perkebunan ini – menjalankan bisnisnya. Untuk setiap petikan yang baik dari seorang buruh, akan dihargai 1010,00 per kilogram dalam rupiah. Sedangkan untuk petikan yang buruk, hanya 500,00 saja perkilogram dalam rupiah. Yang membuatku miris, konon, semua buruh di sini adalah seorang perempuan, seorang ibu rumah tangga, dari seantero desa yang seharusnya focus mengurusi kehidupan rumah tangganya.
Satu hal yang menarik bagiku adalah, di samping pinus-pinus yang menghiasi bukit-bukit di desa ini, ternyata pohon-pohon jeruk yang sengaja ditanam pun ikut menyembul-nyembul ke permukaan terlihat dari kejauhan. Ya, walau jeruk garut sudah pupus harapan akibat serangan virus, dan menurut penuturan warga varietas jeruk garut yang melegenda itu telah diungsikan ke Jawa Tengah, warga sekitar tidak kapok menanam jeruk siam dan beberapa varietas jeruk lainnya.
Dengan memandangi dari atas rumah Ustadz Nurdin ini juga, kita juga dapat mengingat kembali memori kita ketika masih berada di bangku taman kanak-kanak. Aku dengan sangat yakin pasti kita akan teringat gambaran kita tentang gambaran desa yang pertama digambarkan oleh guru-guru kita sewaktu itu. Ya, dengan bukit-bukit, matahari terbit, dan persawahan di bawahnya. Itu dia, banyak sekali pertanaman padi sawah di desa permai ini. Namun, dengan sangat sedih kuungkapkan, dengan background ku sebagai mahasiswa pertanian, penanaman padi sawah di sini masih banyak yang kurang. Seperti jarak tanam, dan pengolahan hama yang belum baik. Semuanya mengakibatkan – menurut pengakuan warga sekitar – produksi padi desa ini terus-menerus menurun selama satu decade terakhir. Hal ini juga disebabkan varietas padi yang tidak pernah diganti selama periode penurunan ini pula.
Desa yang dibelah oleh sungai jernih ini juga menyimpan potensi peternakan. Di setiap dusun, beberapa warga terlihat mempunyai hewan ternak. Mulai dari ternak ayam kecil-kecilan, sampai ternak sapi perah, yang peternak-peternaknya tergabung dalam KPGS (Koperasi Peternak Garut Selatan). Baru kali ini aku melihat orang-orang yang langsung memerah susu dari sapi dan mewadahinya ke dalam belanga-belanga yang tampak keren bagi ku itu.
Dari pertanian, kita berlanjut ke pertambangan. Desa yang ramai - seperti kataku di atas – dengan bebunyian mesin pengolah emas ini, ternyata cukup memakmurkan kehidupan desa. Setiap tambang emas yang ada, dimiliki langsung oleh pemilik tanah. Sebagai contoh, rumah Ustadz Nurdin yang kami tempati. Berdasarkan cerita beliau, ternyata rumah ini dibeli dari pendapatan beliau menambang emas, pada tahun-tahun awal ditemukannya emas di desa ini.
Dalam hal seni dan budaya, dusun tiga di desa Karamat Wangi ini juaranya. Mulai dari atung-atung (marawis) sampai orkes dangdut bersarang di dusun tiga ini. Tidak ketinggalan pula pencak silat. Kesenian-kesenian dari dusun tiga ini kerap kali menghibur acara-acara desa. Sayangnya aku belum sempat melihat penampilan mereka yang konon sangat menghanyutkan ini.
Di sela satu bulan di desa permai bernama Karamat Wangi ini, kami sempat mengadakan program penyuluhan pola hidup bersih dan sehat ke sekolah-sekolah dasar di sekitar dusun satu desa ini. Desa yang memiliki beberapa sekolah dasar ini sangat menekankan nilai-nilai keagamaan. Maka di beberapa SD, SDN 1 Cipangramatan misalnya, menjadikan kerjasama dengan pihak madrasah – pusat pendidikan agama Islam di desa – sebagai strategi untuk mencetak generasi-generasi yang hebat di masa depan, sesuai dengan cita-cita sekolah dasar dengan nama-nomor pertama di desa ini. Selain sekolah dasar – seperti yang aku sampaikan di atas - pendidikan di desa ini juga diramaikan dengan adanya madrasah. Dusun dua dari desa ini merupakan lokasi yang menjadi tempat berdirinya sebuah madrasah ibtidaiyah. Sama dengan dusun dua, iklim pendidikan di dusun satu juga diramaikan oleh madrasah. Namun, sekali lagi sayang, iklim pendidikan yang hangat ini tidak didukung dengan sarana sekolah lanjutan setelah sekolah dasar. Jadilah rata-rata warga lulusan SD, kalaupun SMP, pastinya lulus dari tempat lain atau pesantren.
Seringkali aku memperhatikan badan-badan sehat pemuda di desa ini. Tentulah badan-badan sehat ini dibangun dengan kebiasaan yang sehat pula. Ku akui, beberapa kali datang ajakan berolahraga, bermain volley bersama warga datang, sebanyak itu pula aku tolak. Aku kikuk atas sesuatu yang tidak kukuasai. Namun ternyata, fasilitas olah raga yang mencukupi ini tidaklah sebanding dengan fasilitas praktek kesehatan yang ada. Berdasarkan hasil pemetaan kami, cuma ada satu posyandu yang dihuni satu mantri di satu dusun. Bahkan tidak setiap dusun memiliki tenaga ahli kebidanan. Jadilah bayi-bayi yang lahir banyak dibawa ke paraji, dukun beranak.
Selama di sini, aku mengenal seorang tokoh pemuda yang sangat ramah, Kang Yedi panggilannya. Di pondok tempatnya tidur, kami sering berkunjung, dengan basa dan basi kami nebeng main music di studio kecilnya dan juga game playstation. Tapi syukurlah kami adalah orang-orang yang beradab, jadilah kami lungsurkan sejumlah uang seikhlas dan secukup dompet kami atas ucapan terima kasih. Di balik keramahtamahan pemuda-pemuda di desa kaya emas ini, ternyata kegiatannya masih belum terorganisasi dengan baik. Karang taruna di desa ini belum terbentuk, kendati sudah ditunjuk seorang ketua pemuda, kepemudaan di desa yang hijau ini belum berjalan dengan baik. Sungguh hal yang sangat disayangkan bagiku. Bukankah Bung Karno pernah berpesan dengan tegas untuk memperhatikan pemuda apabila ingin mengubah dunia?
Hari-hari akhir ku di desa Karamat Wangi sebagian waktu kecil kuisi dengan memikirkan perandaian untuk diriku sendiri di masa depan. Tentang apa yang akan kulakukan seandainya aku tinggal dan bisa memberikan sesuatu di sini. Ba’da lulusku dari kuliah dan cukup mempunyai dana untuk usaha hidupku, aku akan membangun kepemudaan di desa ini. Dengan segenap potensi pemuda, desa yang sederhana ini akan menjadi ramai dan semarak dengan kegiatan positif dari pemuda. Selama Dewan Keluarga Masjid (DKM) belum diisi pemuda, maka peradaban desa ini tidak maju dengan pesat. Pembangunan pemuda yang aku rencanakan adalah pembangunan pemuda yang berbasis masjid. Dengan pengajian yang rutin dan pembinaan yang intensif, pemuda-pemuda di desa ini akan siap membangun sendiri desanya dengan mandiri.
Selain itu, dengan background sedikit ilmu lingkungan yang kudapat di kampus, desa yang terkenal dengan sumber emas ini akan kubuatkan pengolahan limbah yang baik, karena sejauh yang kulihat, semua limbah hasil pengolahan emas di sini dibuang ke sungai. Ya, sungai yang sejauh ini kulihat jernih dan berair dingin itu. Aku yakin beberapa tahun lagi tak akan lagi tampak seperti itu.
Impian ku sederhana, aku hanya ingin menjadi seorang pengusaha perkebunan di desa ini, sambil melakukan pendekatan-pendekatan yang intensif kepada pemuda. Sehingga bukan tidak mungkin kemudian nanti banyak pemuda Karamat Wangi bersemangat penuh dan optimis membangun desanya dengan menyandang gelar strata satu pendidikan. Karena seperti yang kutuliskan sebelumnya, masalah motivasi pendidikan merupakan salah satu masalah yang terjadi di desa ini dan merupakan satu masalah yang besar untuk dihadapi.
Akhirnya, desa ini sudah mengajarkanku banyak tentang hidup, tentang karakter, tentang alam, tentang air tenang yang terzholimi, juga tentang tanah berbukit yang menyimpan logam mulia. Sebulan ku di sini aku telah melatih diriku untuk menjadi lebih kuat dan bermental ksatria. Semoga apa yang menjadi lamunanku pada hari-hari akhirku di desa ini dapat menjadi kenyataan, atau minimal aku dapat menularkan gagasanku tentang desa ini, sehingga ada yang bisa mewujudkan mimpi indahku ini.
