Rembulan di Jalan Sayang
jalan dan jalan
lampu-lampu
kita dan aku
larut dalam obrolan dan senyuman
perbedaan sudut pandang yang berujung candaan
masih di situ
“Sayang” namanya
sungguh aduhai ketika orang bertanya: “di mana?” maka kau, kita menjawab: “di-sayang”.
lalu tersenyum
malam adalah malam
dan pagi masihlah pagi adanya
tapi waktu gelap tanpa matahari ini
di Sayang ini, aku merasa sangat disayang
benar, percayalah.
mungkin kau juga akan merasa sama.
kita betul-disayang-betul.
tidak percayakah kita?
lihatlah ke langit di jalan Sayang,
tergantung di sana.
Sang Maha Penyayang menghadiahkan kepada kita.
rembulan indah yang benderang.
tersenyumlah, lalu hamdallah.

